Damon memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap Agarth. Kata-kata itu membuat hatinya bergetar, tetapi dia terlalu takut untuk mengakuinya. "Aku tidak ingin mendengar omong kosong ini lagi, Agarth. Fokuslah pada perintah Leluhur Monrest, dan jangan menyebarkan rasa takut di antara pasukan."

Agarth mendesah pelan. "Kepala Suku, aku hanya ingin memperingatkanmu. Jangan abaikan tanda-tanda ini. Jika tidak, kita semua akan membayar harga yang sangat mahal."

Agarth kembali memandang ke depan, menatap kearah leluhurnya dan Lynx.

Di sisi lain, Leluhur Monrest terlihat seperti kehilangan akal sehatnya. Meski dia sudah memeriksanya dengan kekuatannya, tetapi dia masih belum dapat menerimanya. Ia berlutut di atas tumpukan abu batu meteor, tangannya meraup abu itu dengan gerakan tergesa-gesa, berharap menemukan sisa-sisa inti batu meteor yang masih utuh. Wajahnya berubah gelap, matanya yang biasanya penuh wibawa kini dipenuhi keputusasaan.

"Dimana...?" gumamnya, suaranya nyaris seperti bisikan. Tangannya terus mengais-ngais abu, memeriksanya dengan teliti. "Ini tidak mungkin. Inti batu meteor tidak bisa lenyap begitu saja!"

Para prajurit Monrest yang melihat tindakan Leluhur mereka hanya bisa diam, tidak berani bergerak atau berbicara. Mereka tahu kemarahan Leluhur Monrest bisa meledak kapan saja, dan tidak ada yang ingin menjadi sasarannya.

Mao Ren, nama asli Leluhur Monrest, menggertakkan giginya, wajahnya merah padam oleh amarah. Ia menatap abu di tangannya, lalu melemparkannya ke tanah dengan kasar. "Berani-beraninya kamu, manusia lemah menghancurkan batu meteor ini dan menghancurkan rencanaku?!" teriaknya dengan suara menggema, membuat para prajurit di sekitarnya semakin gemetar.

Leluhur Monrest bangkit dengan gerakan cepat, tatapannya beralih ke arah Lynx yang masih berdiri diam di tempatnya. "Kau!" jari telunjuknya mengarah langsung ke Lynx. "Apa yang kau lakukan pada batu meteor itu?! Dimana intinya?! Cepat katakan kalau kamu masih sayang dengan nyawamu!"

Namun, Lynx tetap diam dan memejamkan mata, tidak menunjukkan reaksi apa pun. Wajahnya tenang, meskipun tubuhnya terlihat lemah dan tak bertenaga. Sikap itu membuat Leluhur Monrest semakin marah. "Kau pikir kau bisa menghancurkan rencanaku dan lolos begitu saja?! Aku akan menemukan inti itu, dan aku akan menghancurkanmu bersamaan dengan seluruh dunia ini!"

Teriakan itu menggema di sekitar perkampungan, membuat suasana semakin mencekam. Tetapi di dalam hati Monrest, sebuah keraguan kecil mulai muncul. Ia tahu, tanpa inti batu meteor, semua ambisinya akan sia-sia. Dan tanpa itu, kekuatannya tidak akan bisa meningkat ke puncak yang dia inginkan. Dia tidak akan bisa keluar dari pulau ini dan semua ambisinya untuk menaklukan dimensi yang ada menjadi hilang seperti abu yang ada di hadapannya.

Leluhur Monrest yang dipenuhi kemarahan mengulurkan tangannya, meraih pakaian Lynx dengan kasar. Dengan satu tarikan kuat, ia mengangkat tubuh Lynx yang masih memejamkan mata ke udara, mencengkeramnya erat seperti boneka kain. Lynx tidak melawan, tubuhnya terlihat lemah, tetapi wajahnya tetap memancarkan ketenangan yang aneh.

"Jika kau tidak mau menjelaskan, aku akan memastikan kau merasakan penderitaan yang setimpal!" seru Monrest dengan suara menggelegar.

Ia terbang dengan kecepatan tinggi, membawa Lynx bersamanya. Udara berdesir kencang saat mereka melesat menuju ketinggian, menarik perhatian semua orang di bawahnya.

Di cekungan, para penduduk Surya yang awalnya hanya melihat Monrest terbang kini menyadari sesuatu yang menggantung di tangannya. Siluet itu perlahan semakin jelas.

"Itu... itu kepala suku!" teriak salah satu penduduk. Kerumunan langsung riuh, suara-suara penuh harapan dan keterkejutan memenuhi udara.

"Itu dia! Dia kembali menolong kita!" teriak yang lain dengan suara gemetar. Wajah-wajah yang tadinya dipenuhi keputusasaan kini berubah penuh emosi. Beberapa bahkan menangis bahagia, memandang ke arah sosok Lynx yang digenggam oleh Monrest.

"Kepala suku! Dia benar-benar kembali!" ujar Narendra dengan suara bergetar. "Dia kembali untuk menyelamatkan kita semua. Kepala suku tidak meninggalkan kita!"

"Lynx!" suara Lala bergetar saat melihat langsung sosok pria yang dirindukan dan dikhawatirkannya.

"Kemana leluhur Monrest membawanya? Apa yang terjadi sebenarnya?" Para penduduk Surya mulai menyadari keadaan. Mereka terlalu bahagia melihat kepala suku mereka, Lynx, datang menolong mereka. Tetapi mereka baru menyadari, lawannya adalah seseorang yang memiliki kekuatan yang sangat mengerikan.

Leena yang masih terikat di tiang juga melihatnya, dan matanya langsung membesar. "Lynx!" jeritnya, tangisnya pecah saat melihat pemuda yang selama ini menjadi harapannya dibawa terbang oleh leluhur Monrest. Ia berontak dengan sekuat tenaga, tetapi tali energi yang mengikatnya terlalu kuat. "Lepaskan dia, brengsek! Lepaskan dia sekarang!" teriaknya, suaranya penuh amarah dan kepanikan.

Di udara, Monrest melayang di atas tanah dengan Lynx masih dalam genggamannya. "Kau tidak punya kekuatan lagi, tidak ada alasan bagiku untuk membiarkanmu hidup. Kau hanyalah sisa-sisa yang tidak berguna! Aku akan membebaskanmu dan para penduduk semuanya asalkan kamu memberitahuku, dimana inti batu meteornya?"

Leluhur Monrest menjadi semakin marah, karena Lynx tetap diam dengan wajah tenang dan matanya masih tetap terpejam, seolah tidak ada yang perlu dia khawatirkan.

"Kalau begitu matilah kamu, bocah!" Dengan kemarahan membuncah, Monrest mengayunkan lengannya, melemparkan Lynx ke bawah dengan kekuatan yang dianggapnya cukup untuk membunuh manusia lemah sepertinya.

Para penduduk Surya yang melihat sosok Lynx terjatuh dengan cepat dari ketinggian, menjerit ketakutan. "Lynx!" teriak mereka serempak, suara mereka penuh kepanikan dan kesedihan.

"Kepala suku!" teriak histeris dari Rira dan Jelita lalu menutup mata tidak sanggup melihatnya.

Leena berteriak histeris, . "Tidak! Lynx! Tolong hentikan! Jangan biarkan dia jatuh!" jeritnya. Dia berusaha melepaskan tali yang mengikat tubuhnya. Air matanya mengalir deras melihat sosok pria yang dicintainya kini terjun bebas dari angkasa dengan kecepatan tinggi dan akan menghantam tanah dengan keras.

Tubuh Lynx meluncur deras ke arah tanah seperti meteor. Kecepatan dan kekuatan lemparan itu menghasilkan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Ketika tubuhnya menghantam tanah, sebuah ledakan keras terjadi, mengangkat debu dan pecahan tanah ke udara. Gelombang kejut dari benturan itu terasa hingga ke cekungan tempat penduduk Surya berada.

"Kepala suku!" teriakan dan tangisan terdengar dari dalam cekungan. Mereka tidak bisa membayangkan kemungkinan ada manusia yang bisa selamat dari ketinggian dan kecepatan seperti itu,

Leena menangis histeris, tubuhnya bergetar hebat. "Tidak! Lynx!" jeritnya, mencoba menarik tali yang mengikat tubuhnya. Air matanya mengalir deras, tidak mampu menerima apa yang baru saja dilihatnya.

Di sisi lain, pasukan Monrest juga terdiam. Beberapa dari mereka mundur dengan ekspresi ngeri, tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh leluhur mereka. Bahkan Damon, yang berdiri di antara pasukan, merasa merinding melihat ledakan besar itu.

"Apakah dia... sudah mati?" gumam salah satu prajurit Monrest dengan suara bergetar.

"Tidak ada yang bisa bertahan dari itu," ujar yang lain, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Leluhur Monrest melayang di udara, menatap ke bawah dengan sorot mata penuh kebencian. "Dasar makhluk lemah," gumamnya. "Itu hukuman yang pantas bagimu."

Namun, ketika debu dan pecahan tanah perlahan mulai mengendap, matanya membelalak. Tidak ada darah, tidak ada tubuh yang hancur, hanya ada satu sosok yang berdiri tegak di tengah kawah besar yang terbentuk akibat benturan itu. Lynx.

Pasukan Monrest juga terpaku, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. "Bagaimana mungkin? Dia bahkan tidak terluka!" kata salah seorang prajurit, wajahnya memucat.

"Pria itu masih hidup?" teriak salah satu prajurit dengan tidak percaya. Suara ketidakpercayaan terdengar dari para prajurit yang keheranan dan kaget, hingga terdengar oleh penduduk Surya di cekungan.

"Kepala suku masih hidup." Kata salah satu penduduk.

"Aku juga mendengarnya, mereka mengatakan kepala suku masih hidup dan baik-baik saja." kata yang lainnya.

"Tapi bagaimana mungkin?" kata salah satu penduduk lainnya lagi.

"Kepala suku kita selalu membuat keajaiban. Kita berdoa, kepala suku berhasil mengalahkan mereka dan menyelamatkan kita," kata tetua Widhi.

Ucapan-ucapan yang terdengar semakin membakar semangat mereka, sehingga membuat seluruh cekungan kembali riuh.

Leena yang awalnya diliputi keputusasaan kini terdiam, mulutnya terbuka lebar. "Lynx..." bisiknya, air matanya masih mengalir, tetapi kali ini karena kelegaan yang tak tertahankan.

